Minggu, 12 Februari 2017

Sekilas, kata “Lingchi” mungkin terdengar seperti nama sebuah makanan. Tetapi, siapa yang menyangka bahwa Lingchi adalah sesungguhnya nama sebuah hukuman pada jaman dahulu yang terkenal akan kesadisannya.
SEJARAH LINGCHI
Lingchi, yang juga sering disebut sebagai lengt'che, adalah sebuah bentuk hukuman mati yang diberlakukan di negara Cina beberapa abad yang lalu. Hukuman ini dipercaya telah berlaku sejak tahun 900 sebelum masehi dan berlanjut beratus-ratus tahun kemudian di negara tersebut sampai pada ahirnya di abad ke-20, hukuman ini secara resmi dilarang oleh pemerintah Cina.
Lingchi via http://3.bp.blogspot.com
Hukuman yang juga pernah dilakukan di negara Vietnam ini digunakan untuk menghukum mati para pelaku kejahatan “berat” seperti pengkhianatan terhadap pemerintahan yang sah, pembunuhan terhadap orang tua kandung. Dan atas kepopuleran dan juga kesadisan hukuman ini, pada tahun 1858 koran  Le Monde Illustre asal perancis pernah memuat ilustasi proses hukuman ini atas seorang Perancis bernama Auguste Chapdeline, meskipun pada kenyataannya kemudia, ia diketahu meninggal bukan karena hukuman ini melainkan karena penyiksaan di penjara dan hukuman pancung.
PROSES HUKUMAN
Proses hukuman yang namanya sendiri jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia bermakna “mati karena ribuan potongan” ini terkenal sangat menyakitan dan mengenaskan. Bagaimana tidak, proses hukuman ini dimulai dengan mengikat terhukum disebuah tiang yang diletakan di tempat umum. Kemudian setelahnya, alat untuk memotong, pisau, disiapkan. Dan setelahnya, bagian demi bagian tubuh terhukum dipotong dengan cara menyayat daging dan kulit dalam jumlah yang kecil. Bagian seperti lengan, dada, dan paha, biasanya adalah bagian tubuh pertama yang akan dipotong.
Proses ini dilakukan oleh eksekutor dengan cara perlahan dengan tujuan membuat terhukum tidak langsung mati dan merasakan sakit yang teramat sebagai ganjaran akan kejahatan berat yang telah ia lakukan. Setelah bagian-bagian tubuh seperti yang telah disebutkan diatas dipotong, maka selanjunya eksekutor akan memotong kaki terhukum.
Terhukum akan mati karena kekurangan darah akibat proses pemotongan ini. Terkadangan, ada beberapa terhukum yang mati sebelum proses pemotongan selesai, dan ketika hal ini terjadi maka proses pemotongan dagi dan pemotongan kaki akan tetap dilakukan meskipun terhukum sudah kehilangan nyawa.
MEREKA YANG MELAKUKAN
Panjangnya sejarah penggunaan hukuman ini membuat daftar panjang kerajaan atau dinasti di Cina yang menerapkan lingchi. Tercatat dinasti seperti Qin, Liao, dan Song pernah menerapkannya.
Raja Qin Er Shin, raja kedua dari Dinasti Qin, tercatat telah menerapkan hukuman ini secara berulang kali pada mereka yang terbukti menghianati sistem kepemerintahannya. Dan raja-raja berikutnya dari dinasti ini seperti Gao Yang dan An Lushan juga tetap menggunakan hukuman sadis ini meskipun secara frekuensi jauh lebih sedikit dibanding pendahulunya. Menurut sejarah, Gao Yang hanya mengeksekusi enam terhukum dan An Lushan hanya menerapkan hukuman ini pada hanya satu orang saja.
Dan tidak jauh berbeda dengan Dinasti Qin, para raja dari dinasti Liao dan Song juga menerapkan hukuman ini dengan jumlah yang tidak sedikit. Tercatat Raja Tianzuo memasukan hukuman ini kedalam undang-undang kepemerintahan dan terlebih lagi Raja Renzong dan Raja Shenzong dari dinasti Song yang menurut rekaman sejarah sangat sering menghukum mati orang yang ia klasifikasikan sebgai pelaku kejahatan kelas berat dengan lingchi.
Ilustasi Lingchi pada koran asal Perancis via https://en.wikipedia.org
PENGHAPUSAN LINGCHI
Semakin majunya peradaban dan semakin banyaknya mereka yang menganggap hukuman ini sebagai hukuman yang sadis dan tidak berkeprikemanusiaan menyebabkan munculnya usulan untuk menghapus lingchi. Usulan pertama, yang tercatat sejarah, atas penghapusan Lingchi adalah usulan yang diajukan oleh Lu You dalam sebuah memorandum pada dewan pengadilan dinasti Song Selatan.
Pada usulannya, Lu You berargumen bahwa Lingchi adalah salah satu hukuman yang tidak pantas diterapkan kepada manusia bukan hanya karena kesadisannya tapi juga atas rasa sakit yang dirasakan oleh terhukum. Dan untuk selanjutnya, pemikiran Lu You pun semakin menyebar dan “mempengaruhi” para cendikiawan Cina untuk memperjuangkan penghentian hukuman ini.
Dan selanjutnya, karena besarnya tuntutan akan penghapusan hukuman ini dan juga karena langkan pemerintah Inggris menghapuskan hukuman gantung di negaranya pada tahun 1866, ahirnya hukuman ini secara resmi dihentikan oleh pemerintah Cina pada tahun 1905. Dan penghentian Lingchi secara legal tercantum pada Chinese Penal Code yang ditulis oleh Shen Jiaben.

Continue reading

Selasa, 07 Februari 2017

“Kupu kupu yang lucu, kemana engkau pergi, hilir mudik mencari, bunga-bunga yang kembang, tidakah sayapmu merasa lelah?” Begitulah lagu anak-anak yang menceritakan tentang salah satu serangga yang menjadi favorit kebanyakan dari kita. Ya! Kupu-kupu adalah serangga yang sangat kita gemari. Bentuknya yang tidak menyeramkan, tidak seperti laba-laba maupun kecoa, dan juga corak sayapnya yang indah menjadi alasan mengapa binatang ini sangat digemari.
Kupu-kupu via http://feelgrafix.com
Sangat sering kita melihat kupu-kupu terbang dan hinggap di bunga maupun buah yang sudah matang atau busuk untuk mengambil nectar, yang merupakan sumber makananannya. Tetapi pernahkah terbesit di pikiran kita dengan apakah kupu-kupu merasakah nektar dari bunga-bunga yang dihinggapinya tersebut? Apakah ia menggunakan alat yang mirip “belalai” dimulutnya? Ataukah ia menggunakan sayapnya? Ataukah ia tidak menggunakan apa-apa karena binatang ini tidak dapat merasakan apa-apa?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita mengetahu bahwa kupu-kupu adalah serangga yang bisa merasakan rasa dari sesuatu. Lantas dengan apakah ia merasakan? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah “dengan kakinya”. Kupu kupu yang mampu terbang sejauh 3 sampai 50 mil perjam ini merasakan makanan dengan kakinya dikarenakan sensor perasa binatang ini memang terletak di bagian tubuh tersebut. Kupu-kupu dapat merasakan makanannya hanya dengan hinggap di makanan tersebut. 
Kupu-kupu merasakan akanan dengan kakinya via http://wallpapersafari.com
Selain untuk merasakan makanan, kaki kupu-kupu yang penuh dengan sensor perasa ini juga memiliki fungsi lain yaitu untuk menentukan apakah sebuah daun cocok sebagai media peletakan telur kupu-kupu atau tidak. Saat hendak meletakan telurnya, kupu-kupu akan terbang dan hinggap dari daun satu ke daun yang lain. Dengan kakinya lah binatang ini bisa menentukan apakah daun yang ia hinggapi cocok sebagai media peletakan telur dan juga apakah daun tersebut cocok untuk makanan ulat dari telur yang ia letakan nanti.

Tidak seperti capung, kupu-kupu tidak memiliki mulut sehingga binatang ini tidak mampu menggigit ataupun mengunyah makanan. Alat yang menyerupai “belalai” kecil di bagian wajahnya sendiri disebut dengan “proboscis” dalam istilah Biologinya. Selama ini mungkin kupu-kupu tampak merasakan makanan dengan proboscis. Tapi nyatanya, alat ini digunakan oleh kupu-kupu hanya untuk meminum nektar dari bunga yang ia hinggapi.

Continue reading

Senin, 06 Februari 2017

Tingkat bunuh diri di negara Jepang terbilang yang paling tinggi di Asia. Banyak penduduk Jepang, yang disinyalir karena mengalami tekanan baik itu pekerjaan, rumah tangga, atau lingkungan, nekat mengahiri nyawanya sendiri.Tapi tahukah anda bahwa di Jepang terdapat tempat “favorit” bagi mereka yang ingin mengahiri hidupnya? Ya, tempat itu adalah hutan Aokigahara.
Aokigahara menjadi tempat "favorit" bunuh diri via https://2.bp.blogspot.com
Aokigahara adalah hutan yang terletak di kaki gunung Fuji, Jepang. Hutan ini adalah salah satu hutan yang paling terkenal di Jepang. Bukan karena keindahan ataupun satwa yang ada di dalamnya, tapi lebih karena banyaknya tingkat bunuh diri yang terjadi di hutan ini. Sehingga tak ayal, hutan yang telah menjadi tempat bunuh diri sejak tahun 1950-an ini di kenal dengan sebutan Suicide Forest (hutan bunuh diri), dan Japan’s Demon Forest (hutan setan jepang).
Saking banyaknya jumlah mereka yang mengahiri hidupnya di hutan ini, banyak yang menobatkan Aokigara sebagai tempat “favorit” bunuh diri kedua setelah jembatan the Golden Gate di Amerika.

Lantas bagaimanakah sejarah Aokigahara menjadi tempat bunuh diri? Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, banyaknya warga Jepang yang bunuh diri di Aokigahara diprakarsai oleh sebuah karya penulis Jepang, Seicho Matsumoto, dalam novelnya yang berjudul Kuroi Kaiju (Black Sea of Trees) pada tahun 1960. Novel tersebut menceritakan kisah sepasang kekasih yang mengahiri hidupnya di sebuah hutan, dan kemudian cerita ini dipercaya mengilhami masyarakat Jepang untuk bunuh diri di Aokigahara. Namun banyak juga yang tidak percaya dengan hal ini karena tindakan bunuh diri di Aokigahara telah jauh terjadi sebelum novel ini diterbitkan.
The Complete Suicide Manual via https://i2.wp.com

Selain Novel Kuroi Kaiju, karya tulis lain yang bernasib sama, dituduh menjadi penyebab banyaknya tingkat bunuh diri di Aokigahara, adalah The Complete Suicide Manual yang ditulis oleh Wataru Tsurumi. Pada tahun terbitnya, yaitu 1993, buku ini menjadi kontroversial. Buku ini berisi panduan berbagai cara bunuh diri dan juga tempat yang tepat untuk melakukannya. Dan hutan Aokigahara disebut-sebut sebagai tempat yang tepat dalam buku ini. Hal yang mengejutkan kemudian adalah banyaknya temuan buku ini di hutan Aokigahara tidak jauh dari mayat mereka yang bunuh diri. Sehingga hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa buku ini menjadi dalang dibalik tingginya tingkat bunuh diri di Aokigahara.

Sekarang, Hutan Aokigahara dipercaya oleh masyarakat Jepang sebagai hutan angker. Penduduk percaya bahwa arwah mereka yang bunuh diri masih berkeliar di dalam hutan. Tak ayal, banyak yang meyakini bahwa siapapun yang masuk ke tengah hutan ini seorang diri maka ia dapat dipastikan tidak akan pernah bisa keluar dari dalam hutan. 

Selain legenda tentang banyaknya arwah yang bergentayangan, hal lain yang membuat hutan ini tampat “tak bersahabat” adalah banyak tulang belulang berserak di sepanjang hutan dengan pakaian yang masih lengkap. Beberapa diantaranya juga meninggalkan barang bawaannya, seperti buku, tenda, ataupun pakaian. Selain itu, karena pekatnya hutan ini, sinyal handphone dan kompas juga mengalami gangguan begitu kita memasuki bagian dalam hutan.
Papan Peringatan di Hutan Aokigahara via https://files.tofugu.com
Pada tahun 2002, setelah hutan ini terkenal akan bunuh dirinya, pemerintah Jepang memutuskan untuk menyusuri hutan guna mengevakuasi tulang belulang yang mungkin masih tersisa dan teridentifikai. Lantas, hasilnya pada tahun 2002 ditemukan sebanyak 78 kerangka manusia, dan setahun setelahnya ditemukan sebanyak 100 kerangka. Karena jumlah yang sangat tidak sedikit ini, polisi pun berinisiatif menempatkan papan peringatan bagi siapun yang berniat untuk bunuh diri di bagian luar hutan Aokigahara. Dalam Bahasa Indonesia, papan ini berbunyi “Hidupmu adalah anugrah terindah bagi orangtuamu”, “Konsultasikan dengan polisi sebelum anda memutuskan untuk mengahiri hidup”.

Continue reading

Minggu, 05 Februari 2017

      Desa mungkin menjadi salah satu tempat favorit bagi sebagian orang sebagai destinasi tempat berlibur. Ketenangan, keramahan orang-orangnya, kesegaran udaranya, mungkin adalah beberapa alasan kenapa sebagian dari kita rela berpergian jauh dari kota untuk sekedar melepas penat di desa. Tapi tahukan kalian, bahwa tidak semua desa menawarkan kenyamanan dan pengalaman yang indah? Di Rusia, ada satu desa yang akan menawarkan anda nuansa horror jika anda berkunjung ke tempat tersebut. Dan desa tersebut bernama Dargavs.
Dargavs dengan kuburan "Necropolis"nya via http://thebesttravelled.com
            Dargavs adalah desa kecil yang terletak di daerah Ossetia Utara, Alania, Rusia. Desa ini tampak seperti desa pada umumnya, hanya saja tidak tampak tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Tidak ayal, karenanya desa ini sering disebut “the city of dead”. Di desa ini juga terdapat sebuah pemakaman kuno yang sering disebut dengan “Necropolis”.
Necropolis sendiri terletak di lereng bukit yang terjal yang menghadap sebuah lembah yang dialiri sungai yang bernama Fiagdon. Dipercaya, penggunaan tempat yang tidak umum sebagai kuburan ini adalah karena nenek moyang orang Ossetia pada dulunya tidak mampu membeli tanah di tempat yang landau, sehingga lereng menjadi pilihan terahir untuk mengubur sanak-famili mereka.
Bagian dalam kuburan di Necropolis via http://thebesttravelled.com
 Di Necroplis sendiri, terdapat sekitar 100 kuburan berbentuk gubuk kecil dimana orang yang dahulunya hidup di desa Dargavs dikubur bersama benda-benda miliknya. Kuburan di Necropolis sendiri berbentuk kubus atau balok dengan sisi-sisi bangunannya yang rata dan atapnya yang berbentuk seperti atap rumah kebanyakan. Terdapat lubang yang tidak terlalu besar di sisi besar di setiap bangunan yang berfungsi sebagai tempat untuk memasukan mayat yang dikubur.
            Legenda yang berhembus di daerah Ossetania bahwa siapapun yang berani menginjakan kaki di kuburan Necropolis akan mendapatkan kutukan dari mereka yang terkubur di sana. Maka tak heran, jika kita akan sangat jarang melihat orang yang mengunjungi tempat ini sampai sekarang. Walaupun sekarang, alasan jarangnya orang mengunjungi tempat ini lebih karena akses ke tempat ini yang sulit bukan karena ketakutan akan kutukan.
Necropolis via http://www.rondreis.nl
Menurut legenda, pada abad ke-17 wabah penyakit melanda daerah Ossetia yang menyebabkan mereka terjangkit penyakit menular yang mematikan. Dan mereka yang telah terjangkit, dipercaya secara sukarela mengasingkan diri mereka di dalam bangunan Necropolis. Disana mereka diam menunggu takdir mereka. Terkadang, beberapa sanak family akan datang mengunjungi mereka dan mengantarkan makanan. Tapi kebanyakan dari mereka tidak selamat dari wabah penyakit dan mereka tinggal selamanya dalam bangunan tersebut dengan tubuh yang membusuk dan meninggalkan tulang-belulang yang dapat kita lihat sampai sekarang.

Continue reading


Kalajengking, lipan, dan ular ditakuti oleh kebanyakan dari kita karena binatang-binatang tersebut terkenal dengan racunnya yang berbahaya dan mematikan. Tapi tahukan anda bahwa tidak hanya binatang, tanaman pun juga mempunya racun yang sangat berbahaya dan bisa menyebabkan hilanganya nyawa siapa saja yang mengkonsumsinya? Di bawah ini akan disajikan 5 tanaman paling berbahaya

   1.    Water Hemlock (Cicuta Maculata)
Water Hemlock via https://www.wildernessawareness.org

Water Hemlock adalah tanaman yang masih memiliki hubungan dekat dengan tanaman beracun bernama Posion Hemlock,yang terkenal karena menyebabkan hilangnya nyawa filsuf kuno terkenal yaitu Socrates. Water hemlock telah dengan sukses menyandang gelar sebagai “tanaman bengis beracun” di daerah Amerika Utara karena tingkat racun dari tanaman ini yang sangat tinggi.
Tanaman yang mengandung banyak racun di akarnya ini menyerupai tanaman seledri yang notabene adalah tanaman yang tidak beracun dan dapat dimakan. Oleh karenanya, mereka yang tertipu dengan penampilan dan mengira Water Hemlock adalah seledri dan memakannya, akan mengalamai akibat yang fatal.
Mereka yang terkena racun tanaman ini biasanya dicirikan dengan gejala seperti kram perut, mual, yang bisa menyebabkan kematian. Sedangkan, mereka yang selamat setelah mengkonsumsi tanaman ini biasanya akan mengalami amnesia.

       2.      Deadly Nightshade (Atropa Belladonna)
Deadly Nighshade via http://il3.picdn.net
Tanaman kedua ini menjadi terkenal karena legenda yang menyangkut-pautkan tanaman ini dengan kematian pasukan Denmark saat berperang melawan tentara Macbeth. Dikatakan bahwa tentara Macbeth berhassil meracuni tentara Denmark dengan buah Deadly Nightshade.
Tanaman asli daerah Eurasia Tengah dan Selatan ini memiliki buah yang menarik dan rasanya yang terkenal manis. Sebabnya, mereka yang tidak mengetahui bahwa buah tanaman ini sangat berbahaya, akan langsung memakannya. Tanaman ini sendiri memiliki daun yang berwarna hijau pucat dan buah yang berwana hitam mengkilap.
Tanaman ini beracun karena pada batang, daun, akan maupun buahnya mengandung atropine dan scopolamine yang jika dikonsumsi akan menyebabkan lumpuhnya otot dan rusaknya fungsi kinerja jantung. Dipercaya, selain buahnya yang berbahayajika dikonsumi, daun tanaman ini akan menyebabkan iritasi jika tersentuh oleh kulit manusia.

       3.      White Snakeroot (Ageratina Altissima)
White Snakeroot via https://virginiawildflowers.files.wordpress.com
Tanaman semak-semak yang memiliki bunga berwarna putih dan banyak dijumpai di halaman maupun sawah-swah di Indonesia ini sebenarnya tidak berbahaya jika terkena atau tersentuh oleh manusia. Namun, tanaman ini memiliki sejarah kelam karena berhasil membunuh Nancy Hanks,ibunda dari Abraham Lincoln.
Nancy sendiri tidak mengkonsumsi tanaman ini secara langsung sebelum kematiannya. Kematiannya sendri lebih disebabkan karena ia meminum susu yang diperah dari sapi yang memakan tanaman ini. Tanaman ini memiliki racun yang dikenal dengan trematol. Trematol sendiri memiliki kemampuan untuk tetap tersimpan dalam susu maupun dagin binatang ternak yang memakan tanaman ini.
Gejala dari merek yang terkena racun trematol adalah seperti kehilangan nafsu makan, mual-mual, lemas, lidah memerah, kram perut, yang bisa menyebabkan kematian.

       4.      Rosary Pea (Abrus Precatorius)
Rosary Pea via https://virginiawildflowers.files.wordpress.com
Tanaman berbahya selanjutnya adalah Rosary Pea. Rosary Pea adalah tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman yang memiliki buah berbentuk kacangan-kacangan berwarna dominan merah dan sedikit warna hitam diujungnya ini dikenal mematikan karena mengandung abrin.
Abirin sendiri adalah zat beracun yang dapat menyebabkan kerusakan organ vital manusia dan 3 mikrogram Abirin dapat menghilangkan nyawa orang dewasa. Satu butir buah Rosary Pea sendiri mengandung lebih dari 3 mikrogram abirin, yang artinya, jika kacang-kacangan ini tertelah, atau terkunyah oleh orang dewasa maka ia mampu dengan cepat menyebabkan kematian.
 
       5.      Oleander (Nerium Oleandar)
Oleander via http://0.tqn.com

Oleander sendiri adalah tanaman yang memiliki bunga yang sangat indah sehingga tak ayal, banyak orang yang menanam bunga ini sebagai tanaman hias. Di balik kecantikan bunganya, Oleander mengandung racun yang bernama oleandrin dan neriine, yang jika terkonsumsi oleh manusia dapat menyebabkan kematian.
Gejala dari mereka yang terkena racun tanaman Oleander adalah seperti mutah-mutah, diare, kejang-kejang, koma, yang dapat menyebabkan kematian. Meskipun kasus kematian karena tanaman ini  sangat jarang, karena racun yang dikandung oleh Oleander sangat kuat sudah sepatutnya kita berhati-hati.

Continue reading